Langkah Pertama: Semangat!

Kalau tidak pandai menjaga semangat untuk blogging, ya bakal mengalami seperti apa yang saya rasakan hampir sebulan ini sejak tanggal 24 April kemarin. Niat awal membuat blog ini adalah hadiah untuk anak pertama kami, Risalah Langit, dan akan kami serahkan username dan passwordnya nanti saat ia sudah dewasa. Setelah semangat menggebu-gebu dan blog dibuat, eh blognya malah dibiarkan kosong tak terurus. Hehe. Padahal amat banyak ide setelah niat itu muncul. Antara lain, kami ingin menuliskan pengalaman-pengalaman kami dalam mendidik Risa, panggilan anak kami ini (belakangan kami buatkan blog khusus untuk yang satu ini). Selain itu, kami juga ingin berdagang. Hehe.

Entah kenapa sejak saya pindah-pindah kerja kok rasanya tidak suka kekakuan ya. Rasa-rasanya tidak suka didikte orang, begitu. Sementara saya yang merasa punya kreativitas (mudah-mudahan sih begitu. Hehe) seperti dibungkam. Padahal itu kan untuk kemajuan tempat kerja juga. Tapi ya sudahlah. Saya mungkin terlahir dengan kepala yang keras. Jadi ya setelah itu saya keluar dan pindah kerja ke tempat lain.

Tapi rupanya, tempat kerja yang baru juga seperti itu. Kantornya yang dibangun dari bahan mudah rusak, amat cukup membahayakan buat mereka saat harus kesundul kepala saya yang keras ini 😀

Apa mau dikata? Kalau terus-terusan seperti itu saya putuskan harus bisa berdikari. Jalan satu-satunya ya dagang kan? Lagi pula, sejak saya terjebak di dalam sebuah seminar bisnis yang pematerinya mengajak membakar ijazah sekolah, saya cukup terhasut. Sepulang dari sana, di pikiran saya hanya ada bisnis, bisnis, dan bisnis.

Cukup lama juga sejak saya punya hasrat yang menggebu ingin menjalankan bisnis. Itu di sekitaran medio tahun 2012. Sampai saat ini, alhamdulillah, saya belum pernah menjalankan bisnis yang saya idam-idamkan tersebut. Hehe.

Memang ide bisnisnya yang bersifat filantropis tidak mudah untuk bisa saya eksekusi sendirian. Saya butuh partner. Apalagi saat itu saya tidak pernah tertarik mempelajari ilmu-ilmu bisnis. Karena saya tidak pernah menemukan titik temu antara ilmu-ilmu bisnis konvensioal dengan bisnis filantropi saya. Padahal belakangan, saat ini, ilmu-ilmu bisnis konvensional tersebut koheren juga. Yah, namanya juga bisnis. Cuma model dan jenisnya saja yang beda. Intinya tetap sama: bisnis! 😀

Eh, kok malah curcol ya? 😀

Ya sudah, skip. Intinya saya tidak ingin termasuk kepada golongan blogger yang punya semangat di awal tapi melempem seterusnya, bahkan untuk setiap langkah-langkah awal yang mesti ditempuh.

Maka, semoga postingan kedua ini menjadi penanda bahwa semangat kami untuk blogging masih menyala-nyala.

Advertisements

Ada yang ingin disampaikan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s