Selarik Perjalanan yang Masih

Terus terang, saya mulai dipaksa tertarik berbisnis itu di kisaran tahun 2012. Di tahun tersebut saya kembali lagi untuk tinggal di kampung halaman di Cianjur, setelah sebelumnya dari tahun 2005 tinggal di Bandung untuk kuliah dan bekerja. Saat itu baru beberapa bulan saya menikah dan rasa-rasanya, kok tinggal berjauhan dengan istri itu tidak enak ya? Hehe. Saya kerja di Bandung, istri kerja di Cianjur. Sebagai pasangan muda yang sedang menggebu-gebu, gimana gitu rasanya. >_<

Ah, sudah tak bisa terlukiskan dengan kata-kata di blog inilah! 😀

Singkat cerita saya kembali lagi tinggal di Cianjur untuk seatap bersama istri di rumah yang telah disediakan mertua. >_<

Tentu saja istri saya senang karena sang pangeran (ehem!) bisa tinggal bersama dengannya. Tapi kabar buruk bagi si cinta-ku adalah saya datang menemuinya dengan melepas kerja di Bandung. Tapi sungguh dia tidak mengeluh. Katanya, justru ia ingin berjuang bersama saya dari nol. :melting

Di tahun pertama kami tinggal bersama, kami hidup dari upah serial saya membantu pengerjaan skripsi teman kuliah yang macet dan gaji istri saya yang tak seberapa. Bukannya tidak bersyukur ya, tapi ini sebatas menerapkan nominal gaji tersebut dengan asumsi kebutuhan rumah tangga. Buktinya, tahun-tahun itu kami masih cakep, eh masih bisa hidup. Sampai sekarang. Hehe. Mudah-mudahan ini menjadi bukti bahwa kami selalu bersyukur dengan apa yang ada di tangan kami.

Di tahun itu pula saya diperkenalkan oleh istri untuk berjualan herbal seperti yang sudah ia lakukan jauh sebelum kami menikah. Menarik juga, karena ternyata profit berjualan setiap item herbal itu cukup menggiurkan. Tapi sebanding juga dengan lamanya sang pelanggan kembali membeli produk kita. Hehe. Jadinya ya harus memperbanyak konsumen.

Sayangnya, ini yang paling tidak bisa saya lakukan. Terus terang, saya orangnya pemalu. Aktivitas jualan yang mengharuskan bertemu dengan banyak orang, tentu saja membebani saya.

Pernah suatu kali, saya hendak menjajakan madu anak untuk dijual ke sejumlah TK. Yang menjadi target pasarnya adalah ibu-ibu yang sedang bergosip sambil menunggui anaknya sekolah, atau ibu-ibu yang sedang menunggui anaknya sekolah sambil bergosip. Hehe.

Begitu saya sampai di gerbang salah satu TK, karena merasa malu akhirnya saya urung menjual dan meninggalkan TK tersebut seraya mencari TK lain. Begitu sampai di TK yang lain, rasa malu pun hinggap lagi. Saya kira rasa malu itu sudah pergi, eh tahunya nongol lagi. >_<

Akhirnya, ya saya lakukan seperti yang saya lakukan sebelumnya: pergi menjauh dari TK dan madu-madu anak pun masih sama jumlahnya sejak saya bawa untuk dijual. >_<

Setelah itu saya ganti produk dari satu ke yang lainnya. Tapi ya sama saja. Rasa malu berjualan itu selalu ada meskipun saya berganti-ganti produk. *Emangnya yang salah siapa: produk atau saya? >_<

Tidak tahan karena begitu besarnya tekanan rasa malu kalau harus jualan, akhirnya saya memutuskan untuk bekerja di bawah ketiak orang lain lagi. Kurang menyenangkan, memang. Tapi tampaknya saya harus menjalaninya dulu.

Sampai kemudian saya terjebak mengikuti salah satu seminar gratis dari pengusaha muda yang sedang naik daun kala itu di wilayah kami. Di dalam seminar itu saya benar-benar seperti ditampar. Semuda itu, si pemateri berhasil membuat saya malu. Di usia yang sudah beranjak menua ini saya belum ada apa-apanya.

Alhasil, selepas dari sana mental bisnis saya terpupuk. Saya benar-benar memimpikan diri menjadi seorang pebisnis. Tepatnya menjadi seorang socialpreneur yang notabene ide bisnisnya sampai sekarang belum dieksekusi. >_<

Jadi, sekarang ngapain aja? Ya jualan yang ada di blog ini dulu ajah 😀

Advertisements

Ada yang ingin disampaikan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s