Ekuilibrium

Risalah Langit
Courtesy of wallcoo.net

Perasaan itu muncul lagi.

Enam tahun yang lalu saat kakek wafat, ia meninggalkan segudang kitab. Beragam ilmu terperangkap dalam bundelan kertas-kertas yang kini menjadi lusuh.

Setelah kakek tiada, amat terasa betapa ia menyayangi seluruh anggota keluarga besarnya. Pada halaman depan suatu kitab yang ditinggalkannya, terdapat wasiat yang menggugah.

Pesan itu sengaja ia tuliskan jauh-jauh hari sebelum kepergiannya. Seolah-olah khawatir sehabis membeli kitab-kitab tersebut ia tidak akan mempunyai waktu lagi untuk menitip pesan buat anak cucunya.

Ungkapan sayang itu menahun di atas kertas yang menguning dimakan zaman.

Ia hanya meminta kepada kami, anak dan cucunya, untuk mempelajari dan mengamalkan seluruh isi kitab yang ditinggalkannya. Agar pahala yang didapat senantiasa terus mengalir dan menjadi kebaikan sampai orang terakhir yang menerima manfaatnya.

Harapan saya sederhana. Di dunia yang perkembangan teknologinya semakin pesat, namun bermata dua, ini saya ingin menjadi keturunannya yang ikut menebar manfaat dari kitab-kitab yang ditinggalkan kakek.

Saya ingin menjadi bagian dari mereka yang menyeru dan mengingatkan manusia kepada kebaikan sejati.

Isinya mungkin begitu-begitu saja, karena hidup pun sejatinya hanya begitu-begitu saja. Akan tetapi kitalah sebagai manusia yang menggenggam penuh hawa nafsu kerap membuatnya menjadi rumit.

Kitab-kitab itu merangkum segala ilmu tentang kehidupan. Isinya adalah pesan-pesan menggugah dari Tuhan, baik yang dikatakanNya secara langsung atau dibisikkan melalui utusanNya.

Siapa saja yang dikehendakiNya kebaikan, maka ia akan dipahamkanNya dalam agama. Sementara agama adalah petunjuk kehidupan, maka yang mengira hidupnya baik-baik saja tanpa panduan dari agama sungguh akan celaka.

Betapa sekarang umat terombang-ambing dalam menjalani kehidupan dunia yang fana ini. Sebagian dari kita terlalu mengejar dunia dan sebagian yang lain justru antipati pada hal-hal profan.

Kita menjadi labil. Padahal Tuhan menghadapkan dunia dan akhirat kepada kita bukan untuk dibenci atau mencintai salah satunya. Keduanya harus kita hadapi secara proporsional.

Sudah semestinya kita berbenah setiap saat dan mendekat kepadaNya. Karena hanya dengan mendekat dan intim dengan firmanNya yang bisa membuat kita menjadi stabil.

Seimbang.

Itulah dia, Risalah Nasihat.

Advertisements

Ada yang ingin disampaikan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s