Kredit: Sebuah Jalan Memiskinkan Diri

Ketika memutuskan untuk mengambil opsi kredit apakah Anda bertambah kaya?

Saat Anda membeli kendaraan, rumah atau barang apapun itu secara kredit, di waktu Anda membubuhkan tanda tangan persetujuan untuk mengambil kredit, maka pada saat itulah Anda memutuskan untuk memiskinkan diri satu tahap.

Seperti apa maksudnya?

kredit barang
Kredit

Mungkin Anda juga pernah merasa bahwa saat mengambil suatu barang dengan cara kredit, entah itu kendaraan lewat pembiayaan leasing atau rumah lewat KPR, Anda merasa bertambah mapan. Merasa mapan karena pada saat itu Anda mempunyai kendaraan atau rumah baru. Padahal sejak penandatanganan untuk akad kredit itu berarti utang Anda bertambah.

Misalnya, Anda membeli mobil seharga 100 juta. Anda mengambil tenor 3-4 tahun. Begitu Anda membayar DP untuk mobil tersebut, maka sejak saat itu bunganya sudah terhitung semua dan sistemnya berjalan. Jika Anda hitung, maka jumlah utang Anda (karena mengambil mobil secara kredit) itu lebih besar dari harga awal mobil.

Itulah kenapa melakukan kredit itu sebenarnya adalah upaya memiskinkan diri sendiri. Karena pada saat penandatanganan akad kredit, Anda tahu harus membayar sekian dan sekian yang nominalnya lebih besar dari harga awal.

Anda bisa setuju dan bisa juga tidak setuju. Karena konsepsi kaya dan miskin di antara semua orang itu berbeda-beda, termasuk Anda.

Anda bisa melakukan penghitungan terhadap harta Anda seluruhnya, berapa nominalnya. Lalu nominal tersebut dikurangi total jumlah utang Anda.

Sisanya berapa? Itulah harta Anda yang sesungguhnya.

Jika setelah dihitung dan ternyata hasilnya minus, maka di sanalah maksud kredit itu memiskinkan Anda.

Jika sebagai seorang pengusaha/pebisnis bisa saja Anda berkilah mempunyai jaminan berupa aset atas kredit yang sudah diambil. Dihitung-hitung pun total nilai aset tersebut lebih besar dari jumlah utang Anda. Jika kondisinya demikian, maka silakan saja. Namun satu hal yang perlu Anda tahu, dalam dunia usaha selalu ada risiko. Risiko dalam dunia usaha adalah saat-saat di mana Anda tertipu atau kondisi pasar sedang lemah yang kesemuanya memengaruhi cashflow Anda.

Saat cashflow terganggu, maka pembayaran kredit juga terganggu. Kalaupun mau menutupi kredit yang macet dengan cara menjual aset, silakan. Mudah-mudahan asetnya bukan berupa properti dengan nilai miliaran yang dijualnya pun susah dan tidak bisa cepat menghasilkan cash. Tapi aset bagi seorang pengusaha biasanya berupa properti (bangunan, alat atau mesin, dll) yang harganya mahal-mahal.

Sampai di sini, inilah pendapat saya tentang kredit yang sebenarnya memiskinkan kita.

Sebetulnya kredit tidak masalah, selama kita mampu untuk melunasinya dengan tanpa masalah. Tapi selalu ada risiko dalam hidup ini yang terkadang datang sekonyong-konyong begitu saja dan mengganggu cashflow kita.

Kita tidak sedang membahas riba tidaknya kredit di sini. Karena bagi seorang muslim sudah jelas kredit yang dicontohkan dalam esai ini adalah kredit yang diharamkan karena berbunga. Bahasan kredit dalam esai ini dilihat dari sudut pandang atau logika-logika ekonomi yang netral. Ini juga bisa menjadi bahan pertimbangan bagi seorang muslim yang hendak mengambil kredit yang bebas riba.

Advertisements

Ada yang ingin disampaikan?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.